Tuesday, 17 December 2013

the second day

Hari ini hari kedua setelah aku memutuskan untuk mundur dan melupakan F, tapi sungguh rasanya sangat sulit. betapapun aku berusaha menyibukkan diri, dia tetap tidak mau hilang dari pikiranku. baik saat sedang kerja, makan, jalan bahkan ke toilet pun, wajahnya masih berbayang di pikiranku.

gila memang, aku merasa sangat rapuh saat dia tidak berada disisiku atau aku harus mengatakan kepada diriku bahwa dia sudah memilih mantannya daripada diriku. sakit memang, aku berusaha melupakannya dengan mengulang-ulang adengan dan kata-kata dimana dia mengatakan bahwa dia memilih mantannya dan tidak dapat menerimaku.

aku berusaha dan sangat berusaha untuk tidak mengingatnya, tapi kata demi kata seperti nyanyian setan. aku berusaha tidak jatuh tapi sepertinya aku akan jatuh dan akan sulit untuk bangun.

hari ini, F mengirim BBM untuk pertama kalinya setelah kemarin ia tidak mengabariku sama sekali, berkali-kali aku berusaha tidak melihat profilenya, tidak menekan send BBM kepadanya, berusaha tidak mengirimkan apapun. tapi rasanya sesak, aku merasa sulit bernafas, dan sekarang, ia mengirim BBM hanya untuk berkata "nduut,.. gi apa?"

hanya 1 kata itu, membuatku berpikir apa yang dia pikirkan tentangku? apa dia merindukanku? bagaimana perasaannya kepadaku yang tiba-tiba menghilang? mengapa dia tidak merasakan apapun seperti aku yang terluka dengan sangat.

dan kata-kata berikutnya hanyalah berupa pelampiasan mesumnya saja. aku bahkan rela melakukan apa yang tidak pernah kulakukan hanya untuk menahannya disisiku. tapi sekarang, aku tidak dapat merasakan apapun, aku merasa seperti sudah mati. aku menginginkannya seperti aku menginginkan tubuhku sendiri.. tapi tidak dengannya. ia bahkan bisa berlaku biasa walaupun aku menghilang dari pandangannya..

somehow, aku menginginkannya kembali padaku, walaupun itu hampir mustahil. hampir mendekati 0%, tapi bagaimanapun di dalam hatiku, aku merasa dan mengharapkan ia melupakan mantannya dan mulai terbiasa dengan keberadaanku sehingga keberadaanku menjadi sesuatu yang penting baginya.. atau bahkan jika saja keberadaanku bisa berada setingkat lebih tinggi dari mantannya, walau hanya 1% aku akan merasa sangat bahagia./


bagaimanapun, hanya dengannya aku tidak pernah membandingkan dengan laki-laki manapun, hanya dengannya aku ingin bersikap egois,dan hanya dengannya aku menyerahkan sepenuh hatiku padanya. aku ingin dia bahagia, tapi sesungguhnya aku ingin ia berbahagia bersamaku... apakah itu terlalu egois untuk diwujudkan?

No comments:

Post a Comment